PUI Javanologi UNS
Kajian Tradisi Jawa
Tentang
PUI Javanologi UNS
Pada tahun 2011 Universitas Sebelas Maret (UNS) mendirikan Pusat Studi Institut Javanologi di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS sebagai salah satu implementasi dari Visi dan Misi Universitas yang berbasis “nilai-nilai luhur budaya Nasional”. Spesifikasi bidang kajiannya adalah deskripsi, eksplorasi, eksplanasi, dan hilirisasi produk unggulan kebudayaan Jawa.
Selamat Datang di
PUI Javanologi UNS
Orientasi visioner UNS ke jenjang World Class University (WCU) serta percepatan menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) membawa konsekuensi inovasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu inovasi berkelanjutan pada sistem pendidikan dan pengajaran, riset, dan revitalisasi pengabdian kepada masyarakat.
Ketua PUI Javanologi UNS Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D.
Javanologi Today
[Javanologi Explore] Batik Jawa: Batik Sidomukti
Batik Sidomukti merupakan batik yang berasal dari kota Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Motif batik sidomukti merupakan jenis batik yang terbuat dari zat warna soga alam. Motif batik sidomukti memiliki ciri khas corak berbentuk lekuk-lekuk yang simetris. Batik...
[Javanologi Explore] Batik Jawa: Batik Sidoluhur
Batik sidoluhur merupakan batik tradisional yang sudah ada bahkan sebelum Kesultanan Mataram berdiri. Pencipta batik sidoluhur ialah Ki Ageng Henis, kakek dari Panembahan Senopati pendiri Kesultanan Mataram. Ki Ageng Henis dipercaya merupakan seseorang yang...
[Javanologi Explore] Batik Jawa: Batik Parang
Batik Parang sudah ada eksitensinya sejak zaman keraton Mataram Kartasura (Solo). Motif batik parang termasuk yang paling tua di Indonesia, kata parang sendiri berasal dari kata pereng yang mempunyai lereng atau tebing. Memiliki pola geometris membentuk huruf S...
[Javanologi Explore] Wayang Wong: Antara Tari, Musik, dan Drama
Wayang orang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah. Cerita yang dimainkan didasarkan pada kisah Mahabharata dan Ramayana yang mengandung pesan-pesan moral. Selain bentuk pertunjukan teater tradisional, wayang orang juga diisi dengan sendratari.
Wayang orang berusia sangat tua. Prasasti Wimalasmara (930 M) dan Prasasti Balitung (907 M) telah menyebut pertunjukan ini dengan istilah Jawa Kuno, wayang wwang. Bukti bahwa kesenian ini sudah ada pada zaman Mataram Kuno. Setelah itu dilestarikan kerajaan-kerajaan baru yang muncul di Jawa Timur, termasuk Majapahit.
Setelah lama terlupakan, wayang wwang dihidupkan kembali keraton Surakarta dan Yogyakarta, dua kerajaan yang muncul dari pembagian Mataram dalam Perjanjian Giyanti pada 1755.
Di Yogyakarta wayang orang dikembangkan Sultan Hamengkubuwono I pada 1750-an. Menurut Soedarsono dalam Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta, selain sebagai seni adiluhung, wayang orang menjadi alat politik untuk meraih legitimasi sebagai penguasa yang sah dari Mataram dan penerus tradisi kebudayaan Majapahit.
Seni pertunjukan ini berkembang masa Sultan Hamengkubuwono V. Buku panduan berupa narasi (Serat Kandha) dan dialog (Serat Pocapan) mulai digunakan untuk latihan dan pertunjukan. Lalu, setelah lama jadi kesenian eksklusif keraton, wayang orang mulai disebarkan ke luar tembok keraton pada era Sultan Hamengkubuwono VII. Pada 1918, didirikan perkumpulan tari Kridha Beksa Wirama, yang hingga kini menjaga eksistensi seni tari hingga wayang orang di istana Yogyakarta.
Di Surakarta, wayang orang dikembangkan Mangkunegara I sekira 1760. Wayang orang Mangkunegaran mengalami perkembangan pesat masa Mangkunegara V. Menurut Wahyu Santoso Prabowo dkk dalam Sejarah Tari: Jejak Langkah Tari di Pura Mangkunagaran, dengan kreativitasnya, Mangkunagara V melakukan pembaharuan dari sisi penari, rias busana, lakon, dan fungsi sajian.
Dari sisi penari, Mangkunagara V mengelompokan menjadi tiga: kelompok wayang orang sentana (keluarga istana), wayang orang abdi dalem, dan kelompok wayang orang perempuan. Kostum penari diubah mengikuti wayang purwa sehingga tokoh wayang mudah dikenali penonton. Koreografi mendapat perhatian sehingga gerakan penari menjadi lebih sistematis dan tersusun rapi. Selain lakon-lakon pokok Mahabarata dan Ramayana, Mangkunegara V menampilkan lakon carangan (di luar pakem).
Namun, perubahan paling penting terjadi pada akhir abad ke-19. Seni pertunjukan ini keluar tembok keraton ketika istana tak punya cukup dana akibat kemunduran ekonomi. Dari sinilah lahir wayang orang panggung yang dipelopori Gan Kam, pengusaha keturunan Tionghoa.
Gan Kam, atas izin Sri Mangkunegara V pada 1895, mengemas wayang orang menjadi pertunjukan komersial. Tata panggungnya mirip opera Tiongkok atau opera Italia. Pemainnya direkrut dari seniman keraton ditambah masyarakat umum.
Setelah Gan Kam wafat pada 1928, tumbuh kelompok wayang orang di Surakarta yang didirikan seniman Tionghoa seperti Sedyo Wandowo, Sarotama, dan Srikaton. Ada pula kelompok bentukan pengusaha Belanda bernama Reunecker yang pentas di sebuah gedung pertunjukan. Ketika kelompok wayang orang Reunecker bubar, gedung pertunjukan dibeli Lie Wat Djien yang kemudian membentuk kelompok wayang orang Sono Harsono.
Tak ketinggalan, keraton membentuk kelompok wayang orang Sriwedari untuk menampung penari-penari istana. Pada 1930-an Sriwedari populer di Surakarta. Salah satu daya tariknya terletak pada penampilan para pemainnya yang apik hingga jadi idola penonton.
Kelompok wayang orang juga muncul di sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 1930-an: Sri Wanito (Semarang), Ngesti Pandowo (Madiun lalu pindah ke Semarang), Sri Budaya (Kediri), dan lain-lain.
Pertunjukan wayang orang sempat mandek pada awal kemerdekaan. Tapi setelah itu wayang orang kembali bersinar. Bahkan kemunculan kelompok wayang orang terus berlangsung hingga 1970-an seperti Pancamurti yang kemudian jadi Bharata di Jakarta dan Wahyu Utomo di Semarang.
Sayangnya pada 1980-an banyak pemain sepuh meninggal atau pensiun. Pertunjukan wayang orang dianggap kurang menarik. Gagalnya regenerasi pemain menjadi penyebab merosotnya pamor wayang orang. Proses nunggak semi (kaderisasi) tak berjalan dengan baik.
Menjamurnya tayangan-tayangan televisi juga membuat penonton semakin berkurang. Perkumpulan wayang orang yang masih bertahan seperti Sriwedari, Ngesti Pandowo, dan Bharata hidup segan mati tak mau.
Institusi pendidikan seni kemudian memegang peranan penting dalam melahirkan pemain wayang orang generasi baru. Dalam pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dengan lakon Bhayangkari Tinandhing Juni 2020, para pemainnya merupakan sarjana seni.
[Javanalogi Explore] Tembang Macapat: Pocung
TembangMacapat PocungHaloSahabat Javanologi,Tembang macapat merupakan salah satu karya dalam Kesastraan Jawa yang masih dilestarikan hingga sekarang. Secara garis besar, Macapat adalah puisi tradisional yang disusun dengan menggunakan aturan tertentu, seperti jumlah...
[Javanologi Explore] Kuliner Jawa: Nasi Tiwul
Tiwul adalah makanan tradisional asli Indonesia yang dulu sempat menjadi makanan pokok pengganti nasi beras. Tiwul dibuat dari gaplek, yaitu singkong yang sudah dikeringkan dan dikukus. Masih banyak orang dari daerah Wonosobo, Gunungkidul, Wonogiri, Pacitan...
Follow Our Social Media
![[Javanologi Explore] Batik Jawa: Batik Sidomukti](https://portal.uns.ac.id/javanologi/wp-content/uploads/sites/26/2022/10/Motif-Batik-Solo-Sidomukti-400x250.jpg)
![[Javanologi Explore] Batik Jawa: Batik Sidoluhur](https://portal.uns.ac.id/javanologi/wp-content/uploads/sites/26/2022/10/c14bc05af558f7328591db0697b4e1566533fa9b-400x250.jpg)
![[Javanologi Explore] Batik Jawa: Batik Parang](https://portal.uns.ac.id/javanologi/wp-content/uploads/sites/26/2022/10/motif-batik-parang-rusak-1-400x250.jpg)
![[Javanologi Explore] Wayang Wong: Antara Tari, Musik, dan Drama](https://portal.uns.ac.id/javanologi/wp-content/uploads/sites/26/2022/10/603b4eda12197-400x250.jpg)
![[Javanologi Explore] Kuliner Jawa: Nasi Tiwul](https://portal.uns.ac.id/javanologi/wp-content/uploads/sites/26/2022/10/5f3286fc15ad6-400x250.jpg)