Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) bekerja sama dengan Museum Nasional Indonesia resmi menyelenggarakan kegiatan edukatif bertajuk “Conservation Insight”. Acara ini dibuka secara resmi oleh Kepala PUI Javanologi UNS, Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D., serta diisi dengan sambutan dari Kepala Museum Nasional Indonesia, Bapak Muhammad Rosyid Ridlo, S.Pd., M.A. Diikuti oleh 50 peserta yang didominasi mahasiswa UNS dari disiplin Ilmu Sejarah, Ilmu Perpustakaan, Sastra Daerah, Pendidikan Bahasa Jawa, dan Pendidikan Sejarah, kegiatan ini juga merangkul para pengelola museum di Kota Solo, antara lain Museum Keris, Museum Radya Pustaka, Museum Samanhoedi, Rumah Budaya Kratonan, hingga Batik Walang Kekek, guna membangun pemahaman mendalam tentang pentingnya preservasi fisik cagar budaya.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemaparan edukatif dari para konservator berpengalaman Museum Nasional Indonesia mengenai identifikasi jenis-jenis koleksi serta potensi risiko kerusakan yang sering mengancam benda-benda museum. Tak sekadar menyampaikan teori penanggulangan, para konservator membekali peserta dengan pengetahuan first-hand melalui simulasi langsung praktik perbaikan fisik koleksi berbahan dasar kertas. Dalam sesi praktikum interaktif tersebut, para peserta dilatih secara teknis dan presisi untuk melakukan penanganan serta restorasi pada naskah kertas yang mengalami kerusakan mekanis seperti robek maupun kontaminasi bahan perekat (lem). Museum Nasional Indonesia juga memberikan insight/pandangan tentang kesempatan berkarir di bidang permuseuman.

Melalui pelatihan ini, PUI Javanologi UNS terus menegaskan komitmennya dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang pelestarian warisan literasi dan budaya Jawa. Langkah nyata ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) Universitas Sebelas Maret, khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penyediaan pembelajaran berbasis keahlian praktis, SDG 11 (Kota dan Pemukiman yang Berkelanjutan) dalam merawat dan melindungi warisan budaya bangsa, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui kolaborasi strategis antara lembaga pendidikan tinggi, museum nasional, dan komunitas budaya lokal.