PUI Javanologi UNS
Kajian Tradisi Jawa
Tentang
PUI Javanologi UNS
Pada tahun 2011 Universitas Sebelas Maret (UNS) mendirikan Pusat Studi Institut Javanologi di bawah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS sebagai salah satu implementasi dari Visi dan Misi Universitas yang berbasis “nilai-nilai luhur budaya Nasional”. Spesifikasi bidang kajiannya adalah deskripsi, eksplorasi, eksplanasi, dan hilirisasi produk unggulan kebudayaan Jawa.
Selamat Datang di
PUI Javanologi UNS
Orientasi visioner UNS ke jenjang World Class University (WCU) serta percepatan menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) membawa konsekuensi inovasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu inovasi berkelanjutan pada sistem pendidikan dan pengajaran, riset, dan revitalisasi pengabdian kepada masyarakat.
Ketua PUI Javanologi UNS Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D.
Javanologi Today
Javanologi UNS Gagas Segitiga Emas sebagai Destinasi Wisata Seni dan Budaya bersama ISI Surakarta dan Taman Budaya Jawa Tengah
READ THE ENGLISH VERSION HERE (SOLO) Pusat Unggulan Iptek Javanologi (PUI Javanologi) Universitas Sebelas Maret menggelar kegiatan Focus Group Discussion dengan tajuk Pembentukan Segitiga Emas sebagai Destinasi Wisata Seni dan Budaya antara PUI Javanologi, Institut...
PUI Javanologi UNS Kenalkan Batik ke Mahasiswa Kokushikan University Japan pada Discover Indonesia Better 2024
READ THE ENGLISH VERSION HEREPusat Unggulan IPTEK Javanologi kembali mengenalkan produk unggulan seni kebudayaan Jawa yaitu Batik kepada para Peserta Discover Indonesia Better 2024, Selasa 20 Februari 2024 di Pendhapa R.Ng. Yasadipura, PUI Javanologi UNS. Program ini...
BSKLN dan UNS Gelar Diskusi Terbatas Langkah Konkret Membangun Jejaring/Asosiasi Indonesianis
Sebelumnya Selanjutnya SOLO –Pusat Strategi Kebijakan Isu Khusus dan Analisis Data (Pusat SK IKAD), Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Universitas Sebelas Maret menggelar kegiatan Diskusi Terbatas dengan mengangkat...
[Javanologi Explore] Busana Jawa: Beskap
Jawa Tengah memiliki keberagaman budaya Jawa yang sangat kental. Pasalnya, dahulu wilayah ini tergabung dalam Kerajaan Mataram Islam sebagai pusat peradaban Jawa. Maka dari itu, tidak heran jika Jawa Tengah menginspirasi banyak daerah lain dalam hal budaya, salah satunya pakaian adat. Pakaian adatnya pun juga sangat beragam. Tetapi kali ini kita bahas Beskap yuk, Sahabat Javanologi!
Beskap diadaptasi dari pakaian jas Belanda dan berasal dari kata beschaafd yang berarti civilized atau berkebudayaan. Beskap dikenal dalam empat macam jenis, antara lain Beskap Gaya Jogja, Beskap Landung, Beskap Gaya Kulon, dan Beskap Gaya Solo. Warna kain beskap yang sering digunakan adalah hitam dengan desain sederhana dan kerah lurus tanpa lipatan, serta modelnya tidak simetris. Beskap kerap digunakan sebagai pakaian khas saat acara pernikahan adat Jawa dan umumnya dilengkapi dengan stagen, blangkon, jarik dan keris. Lalu bagaimana dengan sejarahnya?
Sejarah Beskap
KGPAA Mangkunegara IV bermaksud hendak menghadap raja di Pesanggrahan Langenharjo yang terletak di Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah. Dikarenakan tidak menghadap raja di Keraton, maka yang seharusnya menggunakan “sikepan” atau pakaian sejenis jas tertutup sampai bagian leher dan bagian belakangnya dibuat lengkungan, dengan pertimbangan lainnya, mestinya tidak harus memakai “sikepan”. Maka KGPAA Mangkunegara mempunyai ide untuk merubah baju jas barat atau rokkie menjadi baju corak Jawa.
Pada suatu hari, PB IX beserta Permaisuri dan para sentana mengadakan acara khusus di Pesanggrahan Langenharjo. Maka dari peristiwa menghadap dengan pakaian itu berlangsung di Pesanggrahan Langeharjo, maka jenis beskap tersebut diberi sebutan beskap Langenharjan.
Beskap memiliki arti yang sarat dengan kehidupan piwulang sinandhi, ajaran tersirat dalam filosofi Jawa. Kancingnya melambangkan tindakan-tindakan yang diambil harus diperhitungkan dengan cermat dan jangan sampai merugikan orang lain. Sabuk kain melambangkan ketekunan untuk berkarya. Sabuk yang disebut ubed juga melambangkan bahwa manusia harus selalu ubed, tekun dan gigih. Jarik memiliki arti agar manusia tidak boleh iri atau serik.
Penulis: Renata Listya K. W
Sumber:
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20200505100045-277-500108/beskap-baju-adat-jawa-yang-sering-dipakai-didi-kempot.
https://style.tribunnews.com/2019/08/01/ini-sejarah-dan-asal-usul-baju-beskap-yang-sering-dipakai-oleh-didi-kempot-saat-manggung.
https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6248032/jenis-baju-adat-jawa-tengah-ada-kebaya-dan-beskap.
[Javanologi Explore] Tembang Dolanan Jawa: Lir-Ilir
Lir ilir, lir ilir (Bangunlah, bangunlah)Tandure wis sumilir (Tanaman sudah bersemi)Tak ijo royo-royo tak senggo temanten anyar (Telah menghijau seperti pengantin baru)Cah angon-cah angon (Anak gembala-anak gembala)Penekno blimbing kuwi (Panjatlah pohon belimbing...
[Javanologi Explore] Bahasa Jawa: Ngoko Lugu
BahasaJawa Ngoko Lugu HaloSahabat Javanologi, Ketika seseorang berbicara, selain memperhatikan kaidah–kaidah atau tata Bahasa, juga masih memperhatikan siapa lawan bicara. Berbicara kepada orang yang lebih tua dari kita tentu berbeda dengan berbicara dengan anak kecil...
Follow Our Social Media



![[Javanologi Explore] Tembang Dolanan Jawa: Lir-Ilir](https://portal.uns.ac.id/javanologi/wp-content/uploads/sites/26/2022/11/lir-ilir-400x250.jpg)