PUI Javanologi UNS

Kajian Tradisi Jawa

Ngenani
PUI Javanologi UNS

Ing taun 2011 Universitas Sebelas Maret (UNS) ngedegake Pusat Studi Institut Javanologi ing ngisor Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS dadi salah siji implementasi saka Visi lan Misi Universitas kang adhedhasar “nilai-nilai luhur budaya nasional”. spesifikasi bidang kajiane yaiku deskripsi, eksplorasi, eksplanasi, lan hilirisasi produk unggulan kabudayan Jawa.

Sugeng Rawuh ing
PUI Javanologi UNS

Orientasi visioner UNS menyang jenjang World Class University (WCU) sarta percepatan pinuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH) nggawa konsekuensi inovasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaiku inovasi berkelanjutan ing sistem pandhidhikan lan piwulang, riset, lan revitalisasi pengabdian marang masarakat.

 

Tetuwa PUI Javanologi UNS                                                          Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D.

Javanologi Dino iki

[Javanologi Explore] Wayang Wong: Antara Tari, Musik, lan Drama

[Javanologi Explore] Wayang Wong: Antara Tari, Musik, lan Drama

Wayang orang merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional Jawa, khususnya Jawa Tengah. Cerita yang dimainkan didasarkan pada kisah Mahabharata dan Ramayana yang mengandung pesan-pesan moral. Selain bentuk pertunjukan teater tradisional, wayang orang juga diisi dengan sendratari.

Wayang orang berusia sangat tua. Prasasti Wimalasmara (930 M) dan Prasasti Balitung (907 M) telah menyebut pertunjukan ini dengan istilah Jawa Kuno, wayang wwang. Bukti bahwa kesenian ini sudah ada pada zaman Mataram Kuno. Setelah itu dilestarikan kerajaan-kerajaan baru yang muncul di Jawa Timur, termasuk Majapahit.

Setelah lama terlupakan, wayang wwang dihidupkan kembali keraton Surakarta dan Yogyakarta, dua kerajaan yang muncul dari pembagian Mataram dalam Perjanjian Giyanti pada 1755.

Di Yogyakarta wayang orang dikembangkan Sultan Hamengkubuwono I pada 1750-an. Menurut Soedarsono dalam Wayang Wong: The State Ritual Dance Drama in the Court of Yogyakarta, selain sebagai seni adiluhung, wayang orang menjadi alat politik untuk meraih legitimasi sebagai penguasa yang sah dari Mataram dan penerus tradisi kebudayaan Majapahit.

Seni pertunjukan ini berkembang masa Sultan Hamengkubuwono V. Buku panduan berupa narasi (Serat Kandha) dan dialog (Serat Pocapan) mulai digunakan untuk latihan dan pertunjukan. Lalu, setelah lama jadi kesenian eksklusif keraton, wayang orang mulai disebarkan ke luar tembok keraton pada era Sultan Hamengkubuwono VII. Pada 1918, didirikan perkumpulan tari Kridha Beksa Wirama, yang hingga kini menjaga eksistensi seni tari hingga wayang orang di istana Yogyakarta.

Di Surakarta, wayang orang dikembangkan Mangkunegara I sekira 1760. Wayang orang Mangkunegaran mengalami perkembangan pesat masa Mangkunegara V. Menurut Wahyu Santoso Prabowo dkk dalam Sejarah Tari: Jejak Langkah Tari di Pura Mangkunagaran, dengan kreativitasnya, Mangkunagara V melakukan pembaharuan dari sisi penari, rias busana, lakon, dan fungsi sajian.

Dari sisi penari, Mangkunagara V mengelompokan menjadi tiga: kelompok wayang orang sentana (keluarga istana), wayang orang abdi dalem, dan kelompok wayang orang perempuan. Kostum penari diubah mengikuti wayang purwa sehingga tokoh wayang mudah dikenali penonton. Koreografi mendapat perhatian sehingga gerakan penari menjadi lebih sistematis dan tersusun rapi. Selain lakon-lakon pokok Mahabarata dan Ramayana, Mangkunegara V menampilkan lakon carangan (di luar pakem).

Namun, perubahan paling penting terjadi pada akhir abad ke-19. Seni pertunjukan ini keluar tembok keraton ketika istana tak punya cukup dana akibat kemunduran ekonomi. Dari sinilah lahir wayang orang panggung yang dipelopori Gan Kam, pengusaha keturunan Tionghoa.

Gan Kam, atas izin Sri Mangkunegara V pada 1895, mengemas wayang orang menjadi pertunjukan komersial. Tata panggungnya mirip opera Tiongkok atau opera Italia. Pemainnya direkrut dari seniman keraton ditambah masyarakat umum.

Setelah Gan Kam wafat pada 1928, tumbuh kelompok wayang orang di Surakarta yang didirikan seniman Tionghoa seperti Sedyo Wandowo, Sarotama, dan Srikaton. Ada pula kelompok bentukan pengusaha Belanda bernama Reunecker yang pentas di sebuah gedung pertunjukan. Ketika kelompok wayang orang Reunecker bubar, gedung pertunjukan dibeli Lie Wat Djien yang kemudian membentuk kelompok wayang orang Sono Harsono.

Tak ketinggalan, keraton membentuk kelompok wayang orang Sriwedari untuk menampung penari-penari istana. Pada 1930-an Sriwedari populer di Surakarta. Salah satu daya tariknya terletak pada penampilan para pemainnya yang apik hingga jadi idola penonton.

Kelompok wayang orang juga muncul di sejumlah kota di Jawa Tengah dan Jawa Timur pada 1930-an: Sri Wanito (Semarang), Ngesti Pandowo (Madiun lalu pindah ke Semarang), Sri Budaya (Kediri), dan lain-lain.

Pertunjukan wayang orang sempat mandek pada awal kemerdekaan. Tapi setelah itu wayang orang kembali bersinar. Bahkan kemunculan kelompok wayang orang terus berlangsung hingga 1970-an seperti Pancamurti yang kemudian jadi Bharata di Jakarta dan Wahyu Utomo di Semarang.

Sayangnya pada 1980-an banyak pemain sepuh meninggal atau pensiun. Pertunjukan wayang orang dianggap kurang menarik. Gagalnya regenerasi pemain menjadi penyebab merosotnya pamor wayang orang. Proses nunggak semi (kaderisasi) tak berjalan dengan baik.

Menjamurnya tayangan-tayangan televisi juga membuat penonton semakin berkurang. Perkumpulan wayang orang yang masih bertahan seperti Sriwedari, Ngesti Pandowo, dan Bharata hidup segan mati tak mau.

Institusi pendidikan seni kemudian memegang peranan penting dalam melahirkan pemain wayang orang generasi baru. Dalam pertunjukan Wayang Orang Sriwedari dengan lakon Bhayangkari Tinandhing Juni 2020, para pemainnya merupakan sarjana seni.

read more
[Javanologi Explore] Pasaran Jawa

[Javanologi Explore] Pasaran Jawa

Halo, Mitra Javanologi!     Pitungan Jawa utawa pananggalan Jawa yaiku pananggalan kang digunakake dening Kasultanan Mataram lan sawetara karajan pecahane sarta kang entuk pangaruhe. Mitra Javanologi, masarakat Jawa asring ditepang nduweni tatacara jroning ngira-ira...

read more

No Results Found

The page you requested could not be found. Try refining your search, or use the navigation above to locate the post.

Acara ing Javanologi

Webinar Nyadran: Antara Tradisi, Budaya dan Dakwah Copy

Ketua PUI Javanologi, Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D. dadi narasumber jroning kagiyatan Webinar Nyadran: Watara Tradhisi, Budaya lan Dakwah kang diselenggarakake dening Omah Budaya Kratonan, Surakarta. Kagiyatan iki dilaksanakake ing dina Setu, 26 Maret 2022...

JAVANESE CULTURE EXCHANGE PROGRAM

ayo age-age daftarke awakmu jero kagiyatan webinar javanese culture exchange program: discussion on the value of javanese intangible heritage kang arep diselenggarakake ing dina kemis, 14 april 2022 jam 13.00 wib karo nekakake narasumber:1. Dr. Harbono, S.Kar., M.Sn....

Soft Launching Gedung PUI Javanologi dan Orasi Kebangsaan

PUI Javanologi lan Pusat Studi Pengamalan Pancasila, Universitas Sebelas Maret nggelar Orasi Kabangsan lan Soft Launching Gedhong PUI Javanologi UNS. Kagiyatan iki kadadeyan ing Pendapa R. Ng. Yasadipura Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi ing dina Kemis, 2 Juni...

Malam Kesenian Gora Monggang dan Serah Terima Gamelan Raras Arrum

Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret nganakake kagiyatan arupa wengi kasenian lan serah trima gendhing raras arrum saka ikatan kaluwarga alumni (IKA) UNS. kagiyatan iki diselenggarakake ing dina jemuwah, 23 Juni 2022 ing pendhapa r, ng....

Kerjasama Publikasi Penyusunan Jurnal bersama Balai Provinsi Jawa Tengah

Pusat Unggulan Ipteks Javanologi Universitas Sebelas Maret (PUI Javanologi UNS) nganakake kegiatan FGD ing konteks Kerjasama Publikasi Kompilasi Jurnal karo Dinas Provinsi Jawa Tengah. Acara menika dipunwontenaken wonten ing Ruang Audio Visual Gedung R.Ng....