Bahasa
Jawa Ngoko Lugu

Halo
Sahabat Javanologi,

Ketika seseorang berbicara, selain memperhatikan kaidah–kaidah atau tata Bahasa, juga masih memperhatikan siapa lawan bicara. Berbicara kepada orang yang lebih tua dari kita tentu berbeda dengan berbicara dengan anak kecil atau dengan seseorang yang seumuran dengan kita. Oleh karena itu kita harus mengerti unggah–ungguh basa. Unggah–ungguh Bahasa sendiri dapat dibagi menjadi 3 yakni basa jawa ngoko, madya, dan krama. Lantas Bahasa Jawa ngoko digunakan berbicara kepada siapa saja?

Ngoko lugu merupakan bentuk unggah–ungguh Bahasa Jawa yang semua bentuk semua kosa katanya ngko atau netral. Tanpa terselip krama, krama inggil, atau krama andhap. Dalam raga mini afiks yang digunakan adalah afiks di-, -e, dan – ake bukan afiiks dipun-, -ipun, dan -aken. Dengan kata lain, basa ngoko lugu disusun dari kata – kata ngoko semua.

Seperti yang sudah dijelaskan diatas, Ketika berinteraksi dalam Bahasa Jawa, kita harus memperhatikan lawan bicara kita. Jangan sampai kita tidak mengerti unggah–ungguh basa karena hal itu sangatlah penting. Kita bisa saja dinilai tidak sopan apabila menggunakan kata–kata yang tidak sesuai terhadap lawan bicara kita. Oleh karenanya kita harus mengetahui penggunaan Bahasa Jawa

Ngoko Lugu.

Contoh
Ngoko Lugu:

·       Kowe
aja metu dhisik ! (Kamu jangan keluar dulu !)

·       Piye
kabare ? Apik apik wae to ? (Apa kabar ? baik – baik saja kan ?)

Sirahku rasane ngelu
mikir gawean kok ora rampung – rampung (Kepalaku rasanya pusing pikir pekerjaan
belum selesai)

penulis: Elang Widya Buana

 

https://kampoengilmu.com/tembang-macapat/tembang-pocung/

https://www.motormagz.com/read/63/contoh-tembang-macapat-pocung-bahasa-jawa-lengkap-dengan-artinya