Mendengar nama balung kethek bagi orang awam tentunya akan menimbulkan tanda tanya apakah makanan khas Jawa satu ini benar benar terbuat dari tulang monyet?. Tenang, nama dari makanan ini hanyalah kiasan untuk menggambarkan bentuk dan teksturnya yang keras mirip seperti tulang dan orang yang menggigitnya akan memunculkan ekspresi nyengir seperti monyet. Penamaannya yang unik dijelaskan oleh seorang sejarawan muda di kota Solo, Heri Priyatmoko, “Orang Jawa itu dalam menamakan sesuatu pasti mengacu atau mengumpamakan dengan hal-hal yang dilihat.”
Renyah dan gurih, sensasi itu yang akan pertama kali dirasakan saat mencicipi jajanan khas Solo yang satu ini. Dahulu balung kethek biasanya dibuat dari sisa-sisa rebusan ketela yang keras dan hanya berasa manis. Cara pembuatannya pun cukup mudah, cukup siapkan singkong dan beberapa bahan lainnya seperti: gula, garam, dan bumbu penambah cita rasa lain sesuai selera.
Untuk membuat balung kethek, ada beberapa langkah yang harus diikuti di antaranya:
● Pilih singkong yang benar berkualitas, kualitas singkong mempengaruhi renyahnya
balung kethek.
● Singkong dikupas dan dicuci dengan bersih terlebih dahulu.
● Kemudian singkong dipotong memanjang 4-5 cm dan dibelah dua sebelum akhirnya
dikukus. Setelah dikukus hingga matang, singkong diiris tipis dan dijemur hingga
kering.
● Ketika penjemuran dirasa cukup, balung kethek siap untuk digoreng
● Untuk balung kethek gurih dan asin, setelah digoreng, dicampuri bumbu tabur
ditunggu sampai dingin lalu siap dihidangkan.
● Sedangkan untuk balung kethek pedas manis, sesudah digoreng kemudian
didinginkan dahulu dan digoreng ulang dengan tambahan gula dan bumbu pedas.
● Prosesnya terbilang sangat cepat dengan catatan ketika cuaca panas balung kethek
bisa kering dalam sehari.
● Selamat Mencoba di rumah, semoga berhasil.
