Diambil dari bahasa jawa yaitu taruntum yang berarti adalah bersemi kembali atau tumbuh kembali. Sesuai dengan artinya, batik ini sering digunakan dalam pakaian adat pernikahan Jawa. Sebagai simbol cinta, pewarnaan tie-dye kerap menghiasi pesta pernikahan adat Jawa. Dalam konteks pernikahan, motif tie-dye memiliki nilai filosofis kesetiaan dan harapan akan keabadian dalam kehidupan keluarga pengantin. Dari kesetiaan, kesabaran, kejujuran dan harmoni hingga pertumbuhan yang berkelanjutan dan berbuah, konsep romantis yang diwujudkan dalam motif tie-dye trantum menghubungkan romansa dengan kehidupan yang harmonis berdasarkan cinta dan kesetiaan.
Bicara tentang motif, motif tie-dye dari truntum digambar seperti bintang yang bertebaran di langit malam yang cerah. Bagi sebagian orang, motifnya mungkin tampak bertebaran dengan bunga abstrak kecil, atau mengingatkan pada bunga melati yang bertebaran. Motif ini berawal dari kecemburuan Ratu Kencana yang melampiasakannya atas hadirnya selir baru Sunan Pakubuwana III Surakarta Hadiningrat di kerajaan, namun setelah melihat ratu itu sedang membatik lalu hati sunan kembali tersentuh.
Nama truntum yang berarti tumbuh kembali dalam bahasa Jawa diambil dari peristiwa tersebut. Kisah ini sudah lama terjadi, tetapi ketika datang ke Hari Valentine, semangat pewarnaan tie-dye masih sangat penting. Truntum tie-dye lebih dari sekedar motif, itu adalah simbol modern kesetiaan, kasih sayang dan harmoni.