Kebudayaan Jawa sedari dulu telah dianggap maju terutama dalam segi filosofi. Satu hal dalam spektrum filosofi Jawa yang amat sangat terkenal adalah primbon. Jika masyarakat umum mengenal sistem perbintangan zodiak dan masyarakat keturunan Tionghoa mengenal shio, maka masyarakat Jawa juga memiliki perbintangannya sendiri, yaitu primbon. Primbon sederhananya adalah sistem ramalan Jawa yang didasarkan pada perhitungan weton dan biasa bertujuan untuk memprediksi dan mengantisipasi terhadap segala persoalan kehidupan manusia, mengenai perilaku, watak, jodoh, tata letak, arah, hari, dan masih banyak lagi. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, primbon didefinisikan sebagai kitab yang berisikan ramalan, buku yang menghimpun berbagai pengetahuan kejawen, berisi rumus ilmu gaib, sistem bilangan yang pelik untuk menghitung hari mujur, dan mengurus segala macam kegiatan yang penting.
Merupakan budaya warisan leluhur, kedekatan masyarakat jawa dengan primbon merupakan salah satu bentuk pelestarian budaya. Secara hakikat, primbon, yang merupakan kitab warisan leluhur, berorientasi pada hubungan antara manusia dengan alam semesta dan digunakan sebagai pedoman hidup masyarakat Jawa.
Keberadaan primbon serta kelahiran dan perkembangannya erat kaitannya dengan pengaruh Islam di Nusantara, khususnya Pulau Jawa, di mana banyak nilai Islam yang diadopsi dan berakulturasi dengan unsur Hindu dan Buddha. Pada mulanya, primbon hanya berupa catatan pribadi yang diwariskan secara turun-temurun di lingkungan keraton. Lalu saat memasuki abad ke-20, barulah naskah primbon mulai dicetak dan dipublikasikan secara bebas. Meski demikian, saat itu belum terbit naskah primbon dalam bentuk buku yang sistematis. Asal-usul primbon Jawa dipercaya berhubungan dengan kehidupan manusia pada masa lampau yang begitu tergantung pada proses mendalami, mencermati, dan mempelajari fenomena alam demi menjauhkan diri dari hal buruk berupa kegagalan maupun musibah.
Menurut R. Gunasasmita, perhitungan dalam primbon menggunakan penanggalan Jawa di mana setiap hari, hari pasaran, bulan, dan tahun memiliki perhitungannya sendiri-sendiri dan
digunakan untuk melakukan identifikasi terhadap kejadian yang bisa saja terjadi pada kemudian hari. Melalui pandangan ini, primbon dianggap bisa dijadikan alat untuk mengasah kewaspadaan. Sementara itu jika perhitungan primbon menunjukkan hal yang positif, maka itu dapat menjadi dorongan semangat dan motivasi bagi seseorang.
Dalam primbon, terdapat kepercayaan akan empat sifat dari hari yang buruk, keempatnya adalah Hari taliwangke (hari sengkala), samparwangke (hari sengkala), kunarpawarsa (tahun bencana), dan sangarwarsa (tahun bencana). Sementara itu sifat dari hari baik ada tiga, yaitu ) bulan rahayu (bulan baik), bulan sarju (bulan sedang), dan Anggara Kasih.
Jika masing-masing hari memiliki sifatnya masing-masing, maka setiap pasaran mengandung unsur cahaya dan elemen tertentu yang ada di bumi. Pasaran-pasaran tersebut ada lima, yaitu petakan atau legi (cahaya putih dengan unsur udara), abritan atau paing (cahaya merah dengan unsur api), jene’an atau pon (cahaya kuning dengan unsur cahaya), cemengan atau wage (cahaya hitam berunsur tanah), dan yang terakhir adalah gesang atau kliwon (cahaya hijau berunsur air atau hidrogen).
Sementara itu hari dan pasaran diyakini memiliki angkanya masing-masing. Gabungan dari hari dan pasaran yang disebut nah neptu weton kemudian menjadi acuan untuk mencari hari baik hingga meramal. Adapun hari Minggu memiliki angka 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, sedangkan Sabtu 9.
Suwardi Endraswara menguraikan pembagian primbon menjadi sebelas macam ajaran. Kesebelas ajaran tersebut adalah pranata mangsa, petungan, pawukon, pengobatan, wirid, aji-aji, kidung, ramalan, tata cara selamatan, donga, dan ngalamat atau sasmita gaib. Berikut uraian singkat mengenai kesebelas ajaran tersebut.
● Pranata mangsa merupakan acara membaca alam semesta. Ajaran kini kerap dipakai oleh masyarakat pedesaan yang berprofesi petani dan nelayan untuk melakukan perhitungan waktu tandur atau menanam padi dan melaut. Petungan adalah hitung- hitungan neptu atau nilai numerik yang biasa untuk mencocok-cocokkan sesuatu seperti menentukan jodoh yang tepat bagi seseorang berdasarkan hitungan nama sesuai abjad Jawa yang dibagi tujuh.
●Pawukon adalah perhitungan waktu baik itu hari pasaran, bulan, maupun tahun. Pawukon sebenarnya tidak berbeda dengan metode hitungan astrologi lainnya di mana hari kelahiran seseorang dibagi berdasarkan tanggal dan tahun kelahiran. [18]
● Pengobatan, adapun yang dimaksud dalam hal ini adalah pengobatan tradisional yang digunakan untuk menangani suatu penyakit tertentu. Salah satu contoh primbon pengobatan tercantum dalam Primbon Mangkuprajan berupa mantra untuk mengobati sakit gigi. Untuk menggunakannya, mantra itu ditulis pada kertas untuk kemudian dibakar dan abunya diusapkan ke gigi yang sakit.
●Wirid yang biasanya berupa sastra weda merupakan pesan-pesan, sugesti, atau larangan yang dianggap perlu untuk diikuti demi terciptanya keharmonisan antara manusia, alam, semesta, dan tuhan selaku sang pencipta.
●Aji-aji mencerminkan sisi supranatural dalam kehidupan orang Jawa. Dipercaya bahwa kekuatan supranatural yang luar biasa terkandung dalam suatu mantra apabila itu benar-benar diyakini.
●Kidung adalah syair-syair. Isinya biasanya berisi wejangan-wejangan atau sejenisnya.
●Ramalan atau jangka sebenarnya tidak berbeda jauh dengan hitungan. Perbedaannya adalah ramalan memiliki lingkup yang lebih luas. Ramalan tidak hanya mengurusi masalah individu seperti jodoh namun juga masyarakat, contohnya adalah Jangka Jayabaya.
● Tata cara selamatan berisi panduan mengenai pelaksanaan ritual orang Jawa dengan berbagai tujuan di dalamnya, contohnya pengungkapan rasa syukur dan penolakan bala.
● Donga atau mantra masih serupa dengan wirid dan aji-aji. Namun dalam donga terdapat penggunaan ayat-ayat Al-quran yang ejaannya dijawakan.
● Ngalamat atau Sasmita Gaib biasanya adalah fenomena aneh di alam semesta yang dianggap sebagai keganjilan. Fenomena itu kemudian diartikan sebagai pertanda atas sesuatu.
