Ketua Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi UNS, Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D. menjadi salah satu pembicara dalam Webinar Kepemimpinan Astha Brata Menyongsong Generasi Emas 2045. Acara ini digelar oleh Dewan Professor Universitas Sebelas Maret pada hari Selasa, 28 September 2021 melalui daring zoom dan disiarkan melalui kanal Youtube Universitas Sebelas Maret dengan menghadirkan pembicara yaitu: Dr. Emil Elestianto Dardak (Wakil Gubernur Jawa Timur), Prof. Dr. Zudan Arif Fakrulloh, S.H., M.H.; Bapak Sarwoto Atmosutarno serta dimoderatori oleh Prof. Diah Kristina, M.A., Ph.D.

Astha Brata merupakan delapan laku, atau delapan sifat, atau delapan watak, sebagai bentuk kewajiban seorang pepimpin untuk menghadapi rakyat atau kawula-nya secara bijaksana. Pada kesempatan ini, Prof. Sahid memberikan pemaparan yang berjudul “Kontekstualisasi Hasthabrata: Sketsa Pemimpin Era Kenormalan Baru”. Tersirat dalam Naskah Jawa, ajaran astha brata telah tertulis pada serat Rama Jarwa karya Yosodipura I dan Serat Aji Pamasa karya R.Ng. Ranggawarsita. Bahkan jagad pewayangan Jawa telah mengulasnya melalui lakon Wahyu Makutharama dimana Raden Arjuna mendapatkan wejangan melalui Begawan Kesawasidhi (jelmaan Prabu Kresna). Ketiganya membawa pesan simbolik yang dapat dijadikan pegangan untuk para pemimpin masa depan.

Beliau mengungkapkan bahwa simbol dan lambang dalam kepemimpinan hasthabrata teknis dasarnya cukup sederhana, menemukan sosok pemimpin yang mampu menciptakan perubahan generatif, membangun kesuksesan baru berkelanjutan, dan berkinerja excellent. Hasthabrata membuka kesadaran kita akan kedudukan manusia di tengah lingkungan hidupnya secara utuh. Pemimpin adalah entitas yang berada di tengah koordinat antara keagungan Tuhan, lingkungan fisik, lingkungan non-fisik, dan micro/macro-cosmos. Inilah pandangan kita yang Cosmosentris. Skalanya: Semesta Raya. Bukan manusia atau bangsa/negara. Tapi alam jagad raya. Jadi pemimpin semestinya mampu memahami ihwal jagad raya ini dengan baik. Dengan kata lain, Pemimpin adalah bagian dari semesta raya yang secara kodratiah berkewajiban memayu hayuning bawana (bawana atau buwana). Pandangan yang berbeda dari perspektif antrophosentris: manusia adalah pusat dan pengendali perjalanan alam jagad raya, yang berkewajiban mengatur, mengeksplorasi, dan menata jagad. Dalam penutupnya, Prof Sahid juga memberikan contoh dalam kepemimpinan model Gamelan, dan model Alif Ba Ta.