Blangkon adalah penutup atau ikat kepala lelaki dalam tradisi busana adat jawa. Umumnya, terbuat dari jalinan kain polos atau bermotif hias (batik). Kain tersebut dilipat, dililit, dan dijahit sehingga berbentuk mirip topi yang dapat dikenakan langsung. Ada dua gaya blangkon yang banyak dikenakan oleh para laki-laki dalam pakaian adat Jawa. Blangkon gaya Surakarta dan blangkon gaya Yogyakarta blangkon dalam pakaian adat Jawa ada  gaya Surakarta bentuk mondolannya trepes atau gepeng, Sedangkan blangkon Yogyakarta memiliki modolan yang jelas seperti buntalan.

Blangkon sebagai penutup kepala laki-laki Jawa memiliki makna tersendiri, dari bentuk mondalan sampai dua kain yang menjuntai kanan kiri di belakang. Sebagai penutup kepala, blangkon merupakan penyederhanaan dalam penggunakan iket kepala bagi kaum laki laki Jawa. Karena, menggunakan iket kepala membutuhkan waktu yang lama. Dalam pembuatan blangkon, ada pakem yang bukan hanya diterapkan bagi para pembuat blangkon, tapi juga para pemakai blangkon itu sendiri. Mondolan atau tonjolan pada blangkon, memiliki nilai filosofi bagi orang Jawa. Mondolan menggambarkan rambut laki-laki yang digelung pada zaman dulu. 

Rambut dalam budaya jawa, adalah gambaran perasaan. Mondolan bisa dikatakan rambut yang diikat yang memiliki makna perasan yang harud disembunyikan. Perasan yang harus dijaga jangan sampai ke luar, perasan ini bukan saja perasaan sendiri, tapi juga perasan orang lain. Sedangkan dua potong kain pada blangkon, menggambarkan syahadat tauhid dan syahadat rasul. Saat dua syahadat bertemu maka menjadi syahadat’ain. Pertemuan dua syahadat tersebut diletakan di atas kepala di mana menjadi tempat yang terhormat. Jadi apa yang ada dalam pikiran ketika akan dikeluarkan berdasarkan sendi-sendi ajaran Islam. Nilai-nilai yang terkandung pada blangkon hendaknya bisa menjadi bentuk pengendalian diri bagi si pemakai. Jangan sampai orang yang memakai blangkon tidak pandai membawa prikalu yang baik, tidak terkontrol dan liar. Blangkon yang memiliki nilai filosofis yang tinggi pada mulanya hanya sebagai penutup kepala kemudian berkembang menjadi simbol dan status sosial bagi penggunanya

 

Nilai-Nilai dan Filosofi Blangkon

Peggunaan blangkon bagi masyarakat Jawa memiliki arti tersendiri, sebagai bagian terpenting dan terhormat dari manusia, kepala, rambut dan wajah merupakan mahkota yang harus selalu dijaga dan diberi perhatian.

 

Blangkon Wujud Pengendalian Diri

Pada zaman dahulu banyak sekali orang-orang Jawa yang memanjangkan rambutnya, namun rambut tidak dibiarkan berantakan, melainkan selalu diikat dengan kain atau digulung rapi ke belakang kepala. Hal ini sebagai salah satu bentuk pengendalian diri, rambut biasanya dibiarkan terurai hanya ketika berada di rumah atau dalam sebuah pertikaian, seperti peperangan dan perkelahian. Karena membiarkan rambut tergerai dengan melepas ikat kepala atau membuka penutup kepala merupakan perwujudan dari luapan emosi atau amarah yang memuncak sehingga tidak dapat ditahan-tahan lagi. Jadi, penggunaan blangkon bisa menjadi peringatan agar selalu bersikap lembut dan menahan emosi.

 

Blangkon dan Makna Dua Kalimat Syahadat

Masuknya Islam ke tanah Jawa juga memberikan makna tambahan bagi kebiasaan menggunakan blangkon. Blangkon dikaitkan dengan nilai-nilai inti dari agama Islam yaitu dua kalimat syahadat. 2 kain di bagian belakang blangkon melambangkan, syahadat kepada Allah SWT dan syahadat kepada Rasululah SAW. Dimana kain tersebut diikat menjadi satu kesatuan menjadi syahadatain. Meletakkan syahadatain di tempat teratas dan terhomat, menunjukkan pemikiran bahwa apapun yang keluar dari kepala (akal pikiran) harus dilandasi dengan keimanan yang kuat terhadap Allah dan Rasul-Nya serta memperhatikan aturan-aturan di dalam Islam.

 

Jenis-jenis Blangkon

Pernahkah kamu melihat ada blangkon yang memiliki tonjolan dan ada juga yang tidak memiliki tonjolan atau rata?? Tonjolan pada blangkon diadaptasi dari penggunaan ikat kepala pria Jawa pada zaman dahulu. Kebanyakan pria Jawa memiliki rambut yang panjang, sehingga ranbut harus digulung dan diikat dahulu sebelum memakai blangkon. Gulugan rambut inilah yang kemudian menjadi sebuah tonjolan atau mondolan yang disembunyikan di bawah ikat kepala. Rambut, seperti yang dijelaskan di atas, mempresentasikan perasaan seseorang. Menyembunyikan rambut di bawah ikat kepala adalah simbol dari menjaga perasaan sendiri rapat-rapat demi menjaga perasaan orang lain. Jenis blangkon trepes (rata) berasal dari kraton Solo dan jenis mondolan (tonjolan) berasal dari kraton Yogyakarta. Perbedaan ini terjadi dikarenakan kerjaaan Mataram terpecah karena taktik penjajah Belanda yang memanfaatkan konflik internal kerajaan sehingga terbagi menjadi dua bagian Solo dan Yogyakarta. Masing-masing kerajaan kemudian berkembang dengan caranya sendiri-sendiri. Masyarakat Solo yang lebih dekat dengan Belanda sudah mengenal cara mencukur rambut sehingga merubah bentuk blangkon yang digunakan menjadi rata. Hal ini berkebalikan dengan orang Yogyakarta yang tetap berambut panjang, sehingga bentuk blangkon tidak berubah, tetap memiliki tonjolan.

Sumber 

https://kabarbanten.pikiran-rakyat.com/nasional/pr-593262084/blangkon-dalam-pakaian-jawa-bukan-sekedar-penutup-kepala-tapi-ini-makna-dan-filosofinya

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/ditwdb/blankon-ikat-kepala-tradisi-busana-jawa-pria/

Penulis 

Salsabilla Riska Julianna