Kalahayu

Sebagai kota budaya, kota Surakarta memiliki banyak cara dalam melestarikan tradisi-tradisi yang ada khususnya tradisi Jawa. Ritual Kalahayu adalah sebuah perayaan untuk menyambut datangnya gerhana matahari.

Menurut sejarah Jawa, ritual ini awalnya adalah wujud ketakutan masyarakat Jawa khususnya daerah Keraton Surakarta yang menganggap bahwa gerhana matahari adalah suatu pertanda akan datangnya petaka. Dipercaya bahwa gerhana matahari terjadi karena murkanya Bathara Kala (Dewa Waktu) karena ulah manusia yang kemudian membuat dia memakan matahari

Namun kemudian seiring berjalannya waktu, para seniman kota Surakarta mengubah tradisi ini menjadi perayaan yang penuh sukacita. Mereka ingin menyebarkan stigma bahwa gerhana matahari bukanlah suatu momen yang menyeramkan. Sebaliknya, gerhana matahari adalah momen perkawinan alam raya yang harus dimaknai secara positif dan disambut dengan kebersamaan.

Prosesi

Ritual Kalahayu diawali dengan kirab atau mengarak sesaji yang dibentuk menyerupai gunungan terbuat dari bermacam-macam jenis hasil bumi, seperti buah, kacang, padi, pala kependhem, rempah-rempah, dan sebagainya. Jika melihat ritual ini, kamu seolah dibawa ke zaman lalu karena pembawa sesaji bakal mengenakan kostum laiknya empu zaman kuno.

Setelah gunungan selesai diarak, prosesi selanjutnya adalah menggelar Adeng-adeng. Ini adalah sebuah ritual dimana masyarakat berkumpul dan membuat suara lewat kentongan atau lesung yang dipukul. Dalam istilah Jawa kegiatan ini disebut dengan Klothekan.

Seiring berjalannya waktu, ritual kalahayu mulai mendapat sentuhan-sentuhan seni agar semakin menarik. Dalam ritual ini biasanya akan diisi juga dengan pementasan tarian, pertunjukkan wayang tandur dan pembuatan keris Kyai Singkir Plastik.

Apabila anda menyukai konten-konten kami, kunjungi laman Instagram kami dan bagikan konten kami kepada teman-teman anda.