Berbicara mengenai air, akhir-akhir ini terdapat kemerosotan masyarakat terhadap penghargaan kepada air. Sehingga terjadi kasus-kasus yang berkaitan dengan air baik yang terjadi di sungai, bendungan, waduk, banjir, kekeringan dan pencemaran terhadap sumber daya mineral yang melimpah ini bahkan ironisnya lagi diberbagai daerah sumber daya mineral ini sangatlah mahal didapatkan. Seperti yang kita tahu bahwa Indonesia sebagai negeri yang gemah ripah loh jinawi harusnya tidak kekurangan sumber daya mineral yang berkelimpahan.

Menurut Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D. (Ketua PUI Javanologi UNS) berpendapat bahwa Air merupakan sumber kehidupan dan menjadi symbol awal lahirnya sebuah kehidupan. Baginya, Air merupakan mantra budaya pendorong lahirnya peradaban. Peradaban memproduksi berbagai bentuk budaya yang mampu menjelaskan bagaimana nilai, pengetahuan, tradisi, serta world view sebuah kolektif maupun individu terhadap air. Oleh karena itu, nilai sakralitas air dalam kebudayaan Jawa ini perlu dipandang menggunakan pendekatan dengan konsep etnohidrolika.

Sepanjang sejarah manusia, banyak ditemukan berbagai bentuk peradaban yang berkaitan erat dengan keberadaan air. Bahkan kemampuan manusia dalam mengelola air telah terbukti melahirkan peradaban yang tinggi. Di Surakarta, lahir dan berkembangnya peradaban air tidak terlepas akan peran Bengawan Solo (sungai terpanjang di Jawa) yang mengalir dari Wonogiri melewati Sukoharjo, Solo, Sragen, Ngawi, Blora hingga ke daerah di Jawa Timur. Tak heran jika daerah-daerah yang dilaluinya menjadi daerah yang subur dan makmur kala itu. Perkembangan peradabannya pun ditandai dengan pembangunan irigasi pertanian, waduk-waduk, sarana pariwisata yang mengembangkan budaya lokal berwujud kesenian, upacara tradisi, dan lain-lain. Keberhasilan pada masa Pemerintahan Paku Buwana II pun dalam mengatasi pengelolaan dan pemanfaatan air faktanya dapat melahirkan peradaban yang patamis dan berdampak besar di seluruh sendi kehidupan masyarakat pada masa itu.

Bengawan Solo Masa Lampau - Source KITLV
Aktivitas Bengawan Solo Masa Lalu - Sumber: KITLV

Bagi masyarakat Jawa, keberadaan air merupakann sebuah hal yang mutlak dan tidak dapat dipisahkan. Terlebih lagi, masyarakat Jawa sangatlah lekat dengan kebudayaan yang berakar pada tradisi agraris. Hal inilah yang melahirkan mitos-mitos bahkan cerita rakyat yang begitu sakral terhadap keberadaan air demi menjaga kelestariannya. Sebagi contohnya, Kepercayaan masyarakat sekitar sungai bengawan Solo menganggap bahwa tuk (sumber air), pepohonan dan batuan besar dipercaya menjadi tempat roh nenek moyang bersemayam untuk menjaga dan memelihara sumber air. Cerita-cerita rakyat yang mengalir di telinga masyarakat di sekitar sungai Bengawan Solo seperti asal usul Kedung Bacin, Dlepih Kayangan, Kedung Pungal, dan Pemandian Langenharja, dongeng Jaka Tingkir, Kapal Kyai Rajamala, Kedung Pengantin dan lain lain hingga kini masih terawat baik oleh masyarakat. Penghargaan tinggi terhadap air pun bagi masyarakat Jawa ditunjukkan pada pemberian nama orang atau tempat dengan menggunakan kata tirta, banyu, warih, toya bening dan nama-nama lainnya.

Bercermin kepada Air

Sejak mula kehidupan, bagi Masyarakat Jawa air selalu mendapatkan posisi yang sangat tinggi.  Sehingga pelu bagi kita untuk kembali bercermin kepada Air.

  1. Air secara alami nemiliki wujud dan sifat yang bersih dan jernih. Kedua sifat tersebut melambangkan kebeningan hati dan kejujuran yang berkeadilan.
  2. Sumber mata air itu mengalir tiada henti, bahkan bergabung menjadi satu dengan anak-anak sungai. maksudnya hal tersebut melambangkan persatuan yang kuat. Ketika kita hidup berbangsa dan bernegara, hendaknya harus saling bekerja sama, bersatu, daya dinayan, mad sinamadan dan gotong royong untuk mencapai tujuan bersama.
  3. Di lereng perbukitan, aliran air tidaklah selalu tetap (berubah-ubah). Hal tersebut mengajarkan kita bahwa sebagai manusia hidupnay dinamis, harus kreatif dan inovatif, luwes, mudah beradaptasi serta tidak mudah putus asa.
  4. Air mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah seperti gaya seseorang dalam sebuah kepemimpinan untuk selalu bertanggung jawab terhadap bawahannya
  5. Air mengajarkan kita tentang etika sopan santun seperti hidup yang terus mengalir. Kitika hidup manusia diusik maka demi mengedepankan kebenaran hendaknya bisa seperti air bah.
  6. Aliran air menampung banyak kotoran, namun dengan prosesnya yang alami kotoran tersebut dapat menjadi netral kembali. Aliran air mengajarkan kita untuk bisa menahan diri walaupun terasa pahit yang dirasakan, tenang dalam segala situasi dan tetap tegas serta objektif memberikan penilaian.

Resensi Artikel:
“Menjaga Nilai Sakralitas Air dalam Kebudayaan Jawa: Sebuah Pendekatan Etnohidrolika”
Buku Adiluhung, Kajian Budaya Jawa
Penerbit: Javanologi UNS – 2011