Surakarta, 23 Juni 2026 – Pusat Unggulan Iptek (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) menerima kunjungan David Gallas dan Melanie Webb dari Belanda dalam rangka diskusi mengenai pemanfaatan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) untuk pengelolaan dan interpretasi manuskrip kuno. Pertemuan yang berlangsung di PUI Javanologi UNS tersebut dipimpin oleh Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D. selaku Kepala PUI Javanologi UNS dan turut dihadiri oleh Muhammad Taufiq Al Makmun, M.A., Ph.D., Koordinator Akselerasi Program PUI Javanologi UNS.

Salah satu topik utama yang dibahas adalah pengembangan platform Source Library, sebuah perpustakaan digital berbasis AI yang berfokus pada digitalisasi, transkripsi, penerjemahan, dan penyediaan akses terbuka terhadap manuskrip serta teks-teks historis dari berbagai tradisi pengetahuan dunia. Platform tersebut memanfaatkan teknologi AI untuk membantu proses OCR, transkripsi, penerjemahan, hingga penelusuran informasi dalam koleksi naskah kuno sehingga dapat diakses secara lebih luas oleh peneliti maupun masyarakat.

Dalam diskusi tersebut, David Gallas menekankan bahwa penggunaan AI dalam proses interpretasi manuskrip, khususnya manuskrip Jawa, tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sistem teknologi. Menurutnya, hasil transkripsi dan interpretasi yang dihasilkan AI perlu mendapatkan intervensi serta validasi dari para ahli Jawa agar makna yang muncul tetap sesuai dengan konteks budaya, sejarah, dan epistemologi lokal.

“AI dapat membantu mempercepat proses digitalisasi dan pengolahan data manuskrip, tetapi interpretasi budaya tidak dapat dilepaskan dari kehadiran para pakar. Tanpa keterlibatan ahli Jawa, terdapat risiko munculnya pembacaan yang terlalu berpusat pada perspektif Barat (Western-centric) sehingga nuansa pengetahuan lokal yang terkandung dalam manuskrip dapat tereduksi,” ungkap David Gallas.

Prof. Sahid Teguh Widodo menyambut baik pandangan tersebut dan menegaskan bahwa pengembangan teknologi AI untuk manuskrip Jawa harus dilakukan melalui kolaborasi multidisipliner antara ahli budaya, filolog, linguis, sejarawan, dan pengembang teknologi. Menurutnya, manuskrip Jawa tidak hanya memuat informasi tekstual, tetapi juga merepresentasikan sistem pengetahuan, nilai-nilai filosofis, serta pandangan hidup masyarakat Jawa yang membutuhkan pemahaman kontekstual yang mendalam.

Sementara itu, Muhammad Taufiq Al Makmun menambahkan bahwa perkembangan AI membuka peluang besar bagi percepatan inventarisasi dan pemanfaatan koleksi manuskrip Nusantara. Namun demikian, kualitas hasil yang diperoleh akan sangat bergantung pada ketersediaan data yang baik serta keterlibatan para pakar dalam proses kurasi dan verifikasi.

Pertemuan ini menjadi langkah awal yang penting dalam menjajaki peluang kolaborasi internasional terkait pengembangan teknologi AI untuk manuskrip Jawa dan warisan budaya Indonesia. PUI Javanologi UNS berharap sinergi antara teknologi modern dan keahlian humaniora dapat menghasilkan sistem yang tidak hanya canggih secara teknis, tetapi juga sensitif terhadap konteks budaya lokal sehingga mampu menghadirkan interpretasi yang lebih akurat, inklusif, dan bertanggung jawab.