Surakarta, 1 Oktober 2025 – Pusat Unggulan Iptek Javanologi Universitas Sebelas Maret (PUI Javanologi UNS) kembali menyelenggarakan The 2nd International Summit and Art Performances (ISAP) “Loemboeng” dengan tema “Indigenous Resilience and Food Sovereignty in a Changing World” pada Rabu (1/10/2025) yang bertempat di Ruang Aula Gedung R.Ng. Ranggawarsita lantai 1, PUI Javanologi dan daring zoom.

Rektor UNS, Prof. Dr. Hartono, dr., M.Si. dalam sambutannya menekankan bahwa tema ini merupakan wadah kolaborasi yang menghubungkan budaya, inovasi, dan refleksi kritis terhadap masa depan sistem pangan global. Konsep lumbung sebagai kearifan lokal Indonesia dipandang relevan menjawab tantangan krisis pangan dunia karena merepresentasikan kemandirian, solidaritas, dan keberlanjutan.

“Lumbung bukan hanya sarana penyimpanan pangan, tetapi juga simbol keadilan sosial dan keberlangsungan peradaban."
Prof. Dr. Hartono, dr. M.Si.
Rektor UNS

Lebih lanjut, Rektor UNS mengajak para akademisi, seniman, komunitas, dan pembuat kebijakan untuk menjadikan lumbung sebagai horizon baru: sistem pangan yang berakar pada tradisi namun terbuka pada inovasi, sekaligus memperkuat martabat bangsa dan solidaritas global.

Kegiatan ini menghadirkan pembicara di antaranya Hariette Mingoen (Javanen in Diaspora Nederland), Jéssica Gámez (Mask & Performing Arts Specialist, Mexico), Prof. Madya Dr. Nuraini Yusoff (Universiti Utara Malaysia), Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. (UGM), P.R.A. Luqman Zulkaedin, S.H., M.Kn. (Kasultanan Kasepuhan Cirebon), dan KGPH Puger, BA (Keraton Kasunanan Surakarta). Turut hadir dalam kegiatan ini, Prof. Dr. Ir. Ahmad Yunus, M.S. (Ketua Badan Pengembangan Kebudayaan UNS); dan Prof. Dr. Warto, M.Hum (Sekretaris Badan Pengembangan Kebudayaan UNS).

Kepala PUI Javanologi UNS, Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D. selaku Penanggungjawab kegiatan menyampaikan bahwa budaya memiliki kekuatan besar untuk menjawab tantangan zaman, termasuk krisis pangan yang kini dihadapi oleh seluruh dunia. Tema ini dipandang sebagai ajakan untuk menengok kembali warisan budaya Nusantara, di mana lumbung bukan sekadar tempat menyimpan hasil panen, tetapi juga sarat dengan nilai solidaritas, keberlanjutan, dan keadilan sosial.

Pada malam harinya, kegiatan dilanjutkan dengan pementasan seni dan budaya yang dihadiri lebih dari 500 orang penonton yang terdiri dari dosen, mahasiswa dan masyarakat umum di Pendhapa R.Ng. Yasadipura PUI Javanologi.  Pertunjukan dimulai dengan penampilan Sanggar Galambu Sekar Jagad dari Sukoharjo, Kothek Lesung oleh Sanggar Subur Budaya dari Kabupaten Sragen dan ditutup oleh pementasan Kethoprak Danyange Wiswakarman dengan mengusung lakon: “Pacul Gowang Ninggal Doran”.

Sebagai Pusat Unggulan Iptek bidang Kebudayaan, PUI Javanologi berkomitmen menghadirkan forum ini sebagai ruang dialog, kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan yang melibatkan akademisi, mahasiswa, seniman, dan masyarakat. Kegiatan ini jugan mendukung pencapaian tujuan pembangunan (SDG’s) khususnya SDG 2 (Tanpa Kelaparan) dengan mengangkat kearifan pangan lokal dan praktik tradisional yang berkontribusi pada kedaulatan pangan; SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) karena menghadirkan forum pembelajaran lintas disiplin yang menghubungkan budaya, inovasi, dan isu global; SDG 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan)  melalui sikap menjaga kelestarian budaya, tradisi, dan nilai lokal sebagai fondasi keberlanjutan masyarakat, serta SDG 15 (Ekosistem Daratan) mengangkat kearifan lokal yang menekankan harmoni antara manusia dan alam.