Sahabat Javanologi, apakah pernah mendengar pepatah Jawa yang terkenal, “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah“? Pepatah ini memiliki arti bahwa jika kita hidup dalam kebersamaan yang harmonis dan damai, maka kita akan mencapai ketenangan dan kebahagiaan. Namun, jika kita hidup dalam permusuhan dan perselisihan, maka itu akan mengarah pada kehancuran.
Peribahasa sederhana ini menyampaikan pesan yang kuat yang menekankan pentingnya kerja sama dan persatuan dalam mencapai masyarakat yang damai dan sejahtera. Konsep “rukun” atau persatuan dan kesatuan merupakan nilai yang sangat dihargai dalam budaya Jawa, dan dianggap sebagai kunci utama untuk mencapai kebahagiaan dan kemakmuran bersama.
Bagian pertama dari pepatah ini, “Rukun agawe santosa“, menekankan pentingnya harmoni dan kerja sama dalam mencapai keadaan damai dan puas. Konsep ini sangat tertanam dalam budaya Jawa, yang menghargai konsensus, kerja sama, dan harmoni sosial sebagai prinsip fundamental kehidupan bermasyarakat. Dalam budaya Jawa, konsep rukun sering dikaitkan dengan praktik gotong royong, yang merupakan bentuk tradisional kerja bersama dimana anggota masyarakat bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama.
Di sisi lain, bagian kedua dari pepatah ini, “Crah agawe bubrah“, memperingatkan akan bahaya perpecahan dan konflik. Dalam budaya Jawa, konflik dan perselisihan dianggap sebagai sumber masalah sosial dan ekonomi yang besar, dan oleh karena itu harus dihindari dengan segala cara. Ide ini tercermin dalam peribahasa Jawa, “Siji-siji ora bakal bubar“, yang berarti “Persatuan itu tak terkalahkan”.
Di dunia saat ini, di mana konflik dan perpecahan tampaknya semakin meningkat, kebijaksanaan dari pepatah Jawa ini lebih penting dari sebelumnya. Ini mengingatkan kita bahwa kekuatan kita terletak pada kemampuan kita untuk bekerja sama, untuk mengesampingkan perbedaan kita, dan untuk fokus pada tujuan bersama. Ini mengajarkan kita bahwa hanya melalui persatuan kita bisa mencapai perdamaian dan kemakmuran yang langgeng bagi diri kita sendiri dan masyarakat kita.
Dengan kata lain, Sahabat Javanologi, pepatah “Rukun agawe santosa, crah agawe bubrah” menawarkan kebijaksanaan yang abadi yang relevan bagi kita semua, terlepas dari latar belakang budaya atau keyakinan kita. Mari kita berusaha hidup dengan prinsip ini, untuk merangkul persatuan dan kerja sama, dan untuk bekerja menuju masa depan yang lebih cerah dan harmonis bagi diri kita sendiri dan orang di sekitar kita.
Author: David Aria WIjaya
