Halo Sahabat Javanologi!

Wayang Golek merupakan salah satu ragam kesenian wayang di Negara Indonesia, yang berasal dari masyarakat Sunda Jawa Barat. Pertunjukan seni wayang golek merupakan seni pertunjukan teater rakyat yang banyak dipagelarkan. Perkembangan wayang golek pada dari abad 19 hingga abad ke 20 tidak lepas dari para dalang yang terus mengembangkan seni tradisional ini, salah satunya Ki H. Asep Sunandar Sunarya telah memberikan inovasi terhadap wayang golek agar bisa mengikuti perkembangan zaman, salah satu kreativitasnya yaitu si Cepot di mana di tangan dia kini wayang golek tidak hanya seni yang dikatakan kuno, tetapi seni tradisional yang harus dikembangkan pada era modern sekarang ini.

Sahabat Javanologi, yang menjadi media utama pagelaran wayang golek tersebut adalah boneka yang terbuat dari kayu (umumnya jenis kayu yang ringan), ditatah/diukir, dicat, diberi busana dan karakter sesuai dengan ketentuan dan kebutuhan. Boneka kayu yang menyerupai manusia dengan stilasi itu disebut Wayang Golek, dengan demikian nama benda peraga dan nama jenis pertunjukannya itu sendiri sama yaitu Wayang Golek. Bentuk / badan Wayang Golek sebenarnya dapat dipisah-pisah menjadi 3 (tiga) bagian yaitu bagian kepala beserta leher, tangan, dan badan. Ketiga bagian tersebut dibuat secara terpisah untuk kemudian disambungkan sehingga bentuknya tampak utuh seperti “manusia”.

Bagian leher dan kepala disambungkan oleh bambu yang telah diraut kurang lebih sebesar jari kelingking sehingga wayang tersebut dapat menengok ke kiri dan ke kanan seperti manusia. Bagian bawah dari bambu itu diruncingkan, menembus badan wayang sampai ke bawah yang kemudian berfungsi sebagai kaki yang akan ditancapkan pada batang pisang, sehingga wayang dapat berdiri kokoh. Dari bagian pinggang ke bawah dipasang kain yang berbentuk sarung sehingga tangan Dalang yang memegang bambu tadi tidak tampak dari luar. Sementara bagian tangan dibuat terpisah terutama pada sendi bahu dan sendi siku, sendi-sendi itu dihubungkan dengan benang/tali sehingga wayang tersebut dapat bergerak menyerupai manusia. Bagian tangan tokoh-tokoh wayang tertentu diberi kelat bahu (hiasan pangkal lengan) atau gelang. juga pada bagian-bagian tubuh wayang yang penuh dengan manik-manik, anting telinga, badong (hiasan punggung), keris dan sebagainya. Bentuk badan raut wajah, pakaian, hiasan, disesuaikan dengan karakter dan kedudukan tokoh wayang yang bersangkutan.

Boneka kayu ini terdiri dari bagian-bagian yang saling mendukung dan berkaitan seperti adanya seorang dalang yang memainkan boneka berdasarkan cerita, dan juga wayangnya itu sendiri, bagian yang tidak terpisahkan dari kesenian ini adalah niyaga yaitu grup atau orang yang memainkan gamelan, kendang, gong, rebab dan sinden, juru kawih serta juru alok. Jenis-jenis wayang golek ini terdiri dari tiga bentuk berbeda, ada wayang golek cepak, wayang golek purwa serta yang terakhir adalah wayang golek modern.

Sahabat Javanologi, wayang golek lebih dominan sebagai seni pertunjukan rakyat, yang memiliki fungsi yang relevan dengan kebutuhan-kebutuhan masyarakat lingkungannya, baik kebutuhan spiritual maupun material, mari kita melestarikan wayang golek agar tetap menjadi kesenian dan kebudayaan di Indonesia.

 

Sumber :

https://id.wikipedia.org/wiki/Wayang_golek

https://deepublishstore.com/sejarah-wayang-golek/  

Penulis :

Mahardika Kurnia Ardhi