Batik lasem merupakan hasil akulturasi dari tiga budaya, batik ini merepresentasikan tiga budaya besar yang sangat berpengaruh di Lasem, yakni budaya Tionghoa, Belanda, dan Jawa. Akulturasi tersebut dapat dilihat pada warna kain batik lasem yang didominasi oleh warna merah (terinspirasi budaya Tionghoa), warna biru indigo (khas Belanda), serta warna coklat soga (khas Jawa).
Batik lasem merupakan salah satu jenis batik pesisiran yang memiliki keunikan tersendiri. Batik ini merupakan hasil dari akulturasi dari budaya Tiongkok dan Jawa. Orang-orang Tiongkok pada awalnya banyak menetap di pesisir utara pulau Jawa. Hal tersebut terjadi karena pelabuhan pelabuhan besar pulau Jawa semuanya terletak di sepanjang pantai utara Jawa. Tetapi, sebelum akulturasi dengan Tiongkok, batik Lasem bermula pada masa kepemimpinan Bhre Lasem I (1350-1375) pada masa itu batik sudah menjadi pakaian bangsawan di wilayah Lasem.
Motif batik lasem memiliki ciri khas tersendiri, ada yang berasal dari warga Lasem asli, ada pula yang berasal dari akulturasi budaya Tiongkok. Beberapa contoh dari motif batik lasem adalah latohan, yaitu motif bulatan kecil; watu pecah, berbentuk seperti pecahan kerikil yang terinspirasi pada pembangunan di masa penjajahan Belanda; kilin, yaitu naga berbadan rusa dan memiliki kaki sapi yang merupakan lambang kebijaksanaan dan terinspirasi dari kebudayaan tiongkok; burung hong (phoenix), yaitu gambar burung phoenix yang melambangkan sebagai simbol dari kebaikan; gunung ringgit, yaitu gambar gunung yang terinspirasi pada gunungan dalam pewayangan.