Sejarah Wedang Ronde

Bagi sebagian warga Jawa Tengah dan Yogyakarta mungkin sudah tidak asing dengan makanan ringan yang satu ini. Wedang Ronde adalah makanan hasil akulturasi budaya Cina dan Indonesia, yang terdiri dari “Ronde” atau adonan bulat-nya yang terinspirasi dari hidangan Tangyuan (Cina) dan kuah “Wedang” yang panas dan manis khas Jawa.

Meskipun Wedang Ronde adalah hasil akuturasi budaya Cina dan Indonesia, Nama ronde diyakini berasal dari bahasa Belanda ‘rond’ yang artinya bulat. Ditambahi imbuhan “je”, akhirnya menjadi rondje atau ronde yang lebih mudah dilafalkan orang Indonesia. Dalam Bahasa Belanda, akhiran ‘je’ berarti menunjukkan kata jamak.

Tangyuan

Wedang Ronde di Solo umum dijajakan sebagai kudapan kaki lima yang dapat ditemui di sekitar tempat wisata seperti Kori Kamandungan Surakarta, Keraton Surakarta, Area Ngarsopuro-Mangkunegaran, Stadion Manahan, atau Balai Kota Surakarta. Biasanya, penjual Wedang Ronde mulai berjualan di sore hingga malam hari.

Jika anda ingin mencoba kuliner selain Ronde, beberapa penjual Wedang Ronde juga menjual Wedang Asle sebagai pilihan menu lain.

Pasar Triwindu

Apabila anda menyukai konten-konten kami, kunjungi laman Instagram kami dan bagikan konten kami kepada teman-teman anda.