SURAKARTA — Pusat Unggulan Ipteks (PUI) Javanologi Universitas Sebelas Maret (UNS) kembali melanjutkan rangkaian program Kelas Bahasa dan Budaya Jawa dengan menggelar Kelas Karawitan pada tanggal 18, 19, dan 22 Juni 2026. Bertempat di ruang gamelan PUI Javanologi UNS, kelas intensif ini dipandu langsung oleh seorang seniman karawitan profesional, Takariadi Sapto Dibyo. Kegiatan ini diikuti dengan penuh semangat oleh 25 mahasiswa internasional dari program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) UNS yang berasal dari tujuh negara, yaitu Timor Leste, Myanmar, Filipina, Jepang, Sierra Leone, Rwanda, dan Turkmenistan.

Selama tiga hari pelaksanaan kelas, atmosfer ruang gamelan dipenuhi oleh antusiasme tinggi dari para peserta asing yang tampak terpukau dengan keunikan alat musik tradisional Jawa. Takariadi Sapto Dibyo memperkenalkan teknik dasar menabuh gamelan serta mengajarkan dua lagu bertempo sedang (lancaran), yaitu “Suwe Ora Jamu” dan “Serayu”. Agar mendapatkan pengalaman yang menyeluruh, para mahasiswa internasional didorong untuk saling bergantian posisi memegang instrumen, mulai dari saron, demung, bonang, hingga gong, yang memicu gelak tawa sekaligus fokus yang mendalam di antara mereka.

Proses pembelajaran yang interaktif dan penuh kebersamaan ini membuahkan hasil yang sangat mengesankan di hari terakhir kelas. Meski sebagian besar peserta baru pertama kali menyentuh gamelan, bimbingan yang sabar dari sang maestro serta kerja keras para mahasiswa membuat mereka berhasil memainkan lancaran “Suwe Ora Jamu” dan “Serayu” secara kolektif dengan sangat lancar dan harmonis. Keberhasilan ini membuktikan bahwa musik tradisional mampu melampaui sekat perbedaan bahasa dan menjadi media komunikasi universal yang efektif.

Melalui penyelenggaraan Kelas Karawitan ini, PUI Javanologi UNS turut memperkuat komitmen universitas dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) lewat penyediaan edukasi seni budaya yang inklusif untuk dunia, serta SDG 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) dalam aspek perlindungan dan pelestarian warisan budaya dunia (cultural heritage). Upaya strategis mengenalkan seni adiluhung ini sekaligus mengukuhkan reputasi UNS sebagai World Class University yang aktif membawa kearifan lokal ke panggung internasional.