Wonokitri, Pasuruan, Jawa Timur — PUI Javanologi UNS telah melaksanakan Program Asesmen Kreasi Tari Ikon Daerah di Desa Wonokitri, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, pada tanggal 8–10 April 2026. Program ini merupakan bagian dari upaya eksplorasi, pendokumentasian, dan pengembangan potensi budaya lokal menjadi sebuah identitas tari khas daerah.

Kegiatan ini disambut hangat oleh Kepala Desa Wonokitri, Bapak Kepala Desa Wonokitri, beserta jajaran perangkat desa dan masyarakat, yang turut mendukung penuh jalannya program.

Hari Pertama: Diskusi Budaya dan Eksplorasi Kesenian
Kegiatan hari pertama diawali dengan pemaparan mengenai profil Desa Wonokitri oleh Kepala Desa, dilanjutkan dengan penjelasan terkait kesenian lokal oleh Bapak Kusnadi selaku sesepuh dan seniman Desa Wonokitri.

Selanjutnya, tim Kreasi Tari Ikon Daerah yang terdiri dari Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D., Dr. Basuki Sumartono, M.Sn., serta maestro tari Indonesia Didik Nini Thowok, menyampaikan sambutan sekaligus tujuan pelaksanaan program.

Sebagai bagian dari pengenalan kekayaan seni lokal, para seniman Wonokitri menampilkan beberapa pertunjukan, di antaranya Tari Remo, Beksan Ibu Pertiwi beserta iringan gamelan, serta pertunjukan slompret oleh Bapak Wahyudi.

Melalui sesi ini, tim juga menyerap berbagai masukan, harapan, dan gagasan dari masyarakat terkait perwujudan tari ikon daerah, dengan menekankan pentingnya memasukkan unsur khas Wonokitri seperti ritual adat, bunga edelweiss, serta identitas budaya masyarakat Tengger.

Hari Kedua: Observasi Ritual dan Potensi Alam
Pada hari kedua, tim menyaksikan secara langsung prosesi adat Semeninga yang dilaksanakan di Pura Dhang Khayangan Kerti Jaya Bhuana, sebagai bagian dari pendalaman aspek spiritual dan budaya masyarakat setempat.

Kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan ke Taman Edelweiss Wonokitri, di mana tim bertemu dengan Bapak Teguh, selaku warga sekaligus pengelola taman. Dalam kesempatan tersebut, tim memperoleh penjelasan mengenai latar belakang Desa Wonokitri yang dikenal sebagai desa bunga edelweiss, selain posisinya sebagai gerbang terakhir sebelum memasuki kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.

Hari Ketiga: Wawancara dan Pengumpulan Data
Pada hari ketiga, tim melaksanakan wawancara mendalam dengan sejumlah narasumber yang direkomendasikan oleh Kepala Desa dan para sesepuh. Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan data terkait sejarah, tradisi, serta potensi wisata Desa Wonokitri yang akan menjadi dasar dalam proses penciptaan tari ikon daerah.

Program ini menjadi wujud komitmen PUI Javanologi UNS dalam melestarikan dan mengembangkan warisan budaya melalui pendekatan kolaboratif berbasis riset. Diharapkan, hasil dari kegiatan ini dapat melahirkan karya tari yang tidak hanya merepresentasikan identitas Desa Wonokitri, tetapi juga memberikan manfaat bagi masyarakat serta penguatan potensi budaya dan pariwisata daerah.