Surakarta, 16 Maret 2026 — Pusat Unggulan Ilmu Pengetahuan Javanologi Universitas Sebelas Maret (PUI Javanologi UNS) mengadakan kegiatan academic meeting dengan David Gallas dan Melanie Webb, perwakilan Stichting Behoud Nederlands Ind(ones)isch Cultureel Erfgoed (B-NICE), sebuah yayasan pelestarian warisan budaya Indonesia-Belanda yang berkedudukan di Amsterdam, Belanda. Kunjungan ini menjadi tonggak penting dalam upaya mempererat jaringan akademik dan budaya antara Indonesia dan Eropa, khususnya dalam bidang pelestarian dan pengembangan kebudayaan Jawa.

Pihak PUI Javanologi UNS yang menyambut kedatangan perwakilan B-NICE Stichting dipimpin oleh Kepala PUI Javanologi UNS, Prof. Sahid Teguh Widodo, M.Hum., Ph.D., didampingi oleh Taufik Al Makmun, S.S., M.A., Ph.D. dan Dr. Rahmat, S.S., M.A. selaku Tim Pelaksana Akselerasi Pengembangan Javanologi, serta staf PUI Javanologi UNS. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh semangat, diwarnai dengan sesi sharing mendalam mengenai berbagai isu strategis di seputar pelestarian dan pengembangan budaya Jawa, baik melalui pendekatan akademis maupun platform digital.

Mengenal Stichting B-NICE

Stichting B-NICE (Behoud Nederlands Ind(ones)isch Cultureel Erfgoed) merupakan yayasan nirlaba berstatusANBI (lembaga kepentingan umum) yang bergerak dalam bidang pelestarian, alih generasi, dan pengembangan warisan budaya Indonesia di Belanda. Yayasan ini menaruh perhatian khusus pada budaya Jawa, termasuk tradisi Kejawen, keris pusaka, serta nilai-nilai spiritual dan kultural yang terancam terputus dari generasi ke generasi di tengah komunitas diaspora Indonesia di Eropa. Salah satu program unggulan B-NICE adalah dokumentasi keris pusaka yang dikerjakan secara intensif oleh David Gallas, mencakup aspek historis, pamor, klasifikasi tangguh, hingga upaya repatriasi pusaka ke Indonesia secara bermartabat. Selain itu, B-NICE juga aktif menyelenggarakan kegiatan ritual budaya seperti peringatan Tahun Baru Jawa (Suro) di bawah nama program Wahyu Pusaka, serta berbagai workshop, publikasi, dan kegiatan komunitas studi Kejawèn.

Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak saling berbagi gagasan dan pengalaman mengenai tantangan serta peluang pelestarian budaya Jawa di era modern. Mr. David Gallas memaparkan pendekatan B-NICE dalam mendokumentasikan dan mendiseminasikan warisan budaya Jawa kepada komunitas diaspora di Belanda melalui platform digital, termasuk kanal YouTube dan situs web interaktif yang memuat konten kebudayaan Jawa secara komprehensif. Sementara itu, PUI Javanologi UNS berbagi perkembangan riset dan program unggulannya, termasuk Jawametrik, sebuah inovasi pengukuran berbasis keilmuan Javanologi yang menjadi salah satu keunggulan institusional UNS dalam pengembangan budaya Jawa secara ilmiah dan terukur.


Prof. Sahid Teguh Widodo menyampaikan apresiasinya atas inisiatif B-NICE dalam menjaga keberlanjutan budaya Jawa di luar tanah air. “Kehadiran Mr. David Gallas dan B-NICE menunjukkan bahwa budaya Jawa tidak hanya hidup di Jawa, tetapi juga dijaga dengan penuh dedikasi oleh komunitas diaspora di Eropa. Ini adalah modal besar bagi kita untuk membangun kolaborasi yang lebih konkret di masa depan,” ujar Prof. Sahid.

Peluang Kolaborasi ke Depan

Kunjungan ini membuka peluang kerja sama yang lebih luas antara PUI Javanologi UNS dan Stichting B-NICE, antara lain dalam bidang riset bersama mengenai keris pusaka dan Kejawen, pertukaran dokumentasi dan publikasi budaya, pengembangan konten digital berbasis kebudayaan Jawa, serta penguatan jaringan internasional komunitas diaspora Jawa di Eropa. Kedua pihak sepakat untuk menindaklanjuti pertemuan ini dengan penjajakan program kolaborasi yang lebih formal dalam waktu dekat.

Kunjungan Mr. David Gallas ke PUI Javanologi UNS menjadi bukti nyata bahwa upaya pengembangan budaya Jawa semakin mendapat perhatian lintas negara, dan bahwa UNS melalui PUI Javanologi berkomitmen untuk menjadi pusat rujukan kebudayaan Jawa di tingkat global.