Dhondong apa salak, dhuku cilik-cilik… Ngandhong apa mbecak, mlaku timik-timik … Apakah Sahabat Javanologi kenal lagu satu ini? Lagu ini berjudul Dhondhong Opo Salak, yang merupakan lagu daerah dari Jawa Tengah. Tembang dolanan satu ini diciptakan oleh Kris Bintoro, seorang aktor dan penyanyi Indonesia yang terkenal pada tahun 70-an hingga 80-an. Seperti namanya tembang dolanan, Dhondhong Opo Salak sering dinyanyikan saat bermain. 

Setiap lagu daerah memiliki maknanya tersendiri, tak terkecuali Dhondhong Opo Salak. Lagu ini memiliki makna tentang karakter dan sifat manusia yang berbeda-beda. Hal tersebut digambarkan pada penggunaan karakter buah kedondong dan buah salak pada lagu ini. Buah kedondong memiliki kulit luar yang halus, namun dagingnya berserat dan memiliki rasa yang asam. Sebaliknya, buah salak memiliki kulit yang kasar dan berduri, namun buahnya memiliki tekstur yang lembut dan juga rasa yang manis.

Hal ini menunjukkan bahwa kita tidak boleh menghakimi seseorang dari luar saja. Seseorang yang terlihat baik dan bermuka manis di hadapan orang lain, bisa saja ternyata hatinya tidak sebaik apa yang kita duga. Sedangkan, seseorang yang penampilannya terlihat buruk dari luar, dia ternyata memiliki pikiran, karakter dan hati yang baik.  Selain itu, lirik lagu Dhondhong Opo Salak juga memberikan nasihat berupa agar anak tidak nakal saat ditinggal ibunya pergi.

Tembang Dolanan Dhondhong Opo Salak

Lirik:

Dhondhong apa salak, dhuku cilik-cilik

(Kedondong atau salak, duku kecil-kecil)

Ngandhong apa mbecak, mlaku timik-timik

(Digendong atau naik becak, jalan melangkah kecil-kecil)

Adik ndherek Ibu tindak menyang pasar

(Adik ikut ibu, pergi ke pasar)

Ora pareng rewel ora pareng nakal

(Enggak boleh rewel, enggak boleh nakal)

Ibu mengko mesthi mundhut oleh-oleh

(Nanti ibu pasti membeli buah tangan)

Kacang karo roti Adik diparingi

(Kacang dan roti, adik diberi)