Pangkur
(KGPA. Mangkunegara IV, Wedhatama)
Mingkar-mingkuring angkara,
Akarana karenan mardi siwi,
Sinawung resmining kidung,
Sinuba sinukarta,
Mrih kertarto, pakartining ngelmu luhung,
Kang tumrap neng tanah Jawi,
Agama-ageming aji.
Tembang macapat merupakan salah satu karya sastra Jawa yang bernada berbentuk tembang, lagu, atau puisi tradisional Jawa. Tembang macapat biasanya terikat oleh guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Pada kebudayaan Jawa, selain sebagai hiburan tembang macapat juga memiliki peran sebagai pendidikan. Seperti Pangkur sebagai contohnya yang memiliki makna sebagai nasihat dimana kita sebagai manusia hendaknya mungkur (mundur) dari hal-hal keduniawian dan mulai mengedepankan agama.
Nama Tembang Pangkur sendiri berasal dari nama penggawa pada kalangan kependetaan. Dalam Serat Purwaukara, pangkur sendiri memiliki arti ekor/buntut. Oleh karena itu, pangkur biasanya diartikan sebagai penggambaran dimana manusia memiliki fase mundur dari kehidupan ragawi menuju kehidupan rohani/spiritual. Tembang Pangkur memiliki watak atau karakter gagah, perkasa, dan berkeyakinan tinggi untuk membimbing seseorang dalam mempersiapkan masa depan.
Tembang Pangkur sendiri memiliki 7 guru gatra, yang artinya memiliki 7 baris kalimat. Memiliki guru wilangan 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8, yang artinya pada baris pertama memiliki 8 suku kata, baris kedua memiliki 11 suku kata, dan seterusnya. Selain itu tembang Pangkur memiliki guru lagu a, i, u, a, u, a, i, yang berarti pada baris pertama berakhir dengan vokal a, baris kedua berakhir dengan vokal i, dan seterusnya.