Maestro Keroncong Jawa,
Gesang Martohartono

Cukup sebait saja, pasti anda langsung bisa menebak siapa tokoh yang akan kami bahas kali ini. Gesang Martohartono, sang musisi jawa legendaris yang akrab disapa Gesang. Lahir di kota Solo, 1 Oktober 1917, Gesang tidak langsung memulai karirnya sebagai musisi, melainkan hanya sebagai penyanyi lagu keroncong untuk pesta kecil-kecilan.

Sebelum menemukan karya emasnya, Gesang juga sempat menulis beberapa lagu seperti Keroncong Roda Dunia, Keroncong si Piatu, dan Sapu Tangan pada masa perang dunia II. Namun belum pernah ada yang pecah seperti Bengawan Solo yang ia ciptakan pada tahun 1940.

Tidak disangka-sangka, lagu Bengawan Solo ciptaannya bisa mengantar dirinya berkeliling Asia. Lagunya terdengar oleh seorang tentara Jepang dan ‘dibawa pulang’ dan mulai terkenal di luar negeri. Sampai saat ini, diketahui bahwa Bengawan Solo sudah diterjemahkan kedalam 13 bahasa asing termasuk bahasa Inggris, bahasa Rusia, bahasa Tionghoa, dan bahasa Jepang.

Poster Film Bungawan Soro oleh Kon Ichikawa

Di Jepang, lagu Bengawan Solo di cover oleh musisi Jepang Toshi Matsuda. Bahkan lagu Bengawan Solo juga sempat dijadikan film oleh Sutradara Jepang, Kon ichikawa pada tahun 1951. Selain itu, Gesang juga memperoleh anugerah Bintang Kehormatan dari Kaisar Akihito pada 1992. 

 

Taman Gesang

Sebagai bentuk penghargaan atas jasanya terhadap perkembangan musik keroncong, Jepang mendirikan Taman Gesang di dekat Bengawan Solo pada tahun 1983. Pengelolaan taman ini didanai oleh Dana Gesang, sebuah lembaga yang didirikan untuk Gesang di Jepang.

Spotify Gesang

Di media streaming musik Spotify, contohnya. Saat kami cek profil artis milik Gesang, dapat dilihat kalau jumlah pendengar bulanan musik Gesang masih menembus angka 32 ribu pendengar setiap bulannya! Dan lagu Bengawan Solo meraup jumlah streaming terbanyak hingga 483,000 pendengar.

 

Apabila anda menyukai konten-konten kami, kunjungi laman Instagram kami dan bagikan konten kami kepada teman-teman anda.