Bedhaya Ketawang merupakan salah satu tari tradisional klasik Jawa yang memiliki kedudukan penting dalam tradisi Keraton Surakarta. Tari ini dikenal sebagai tari sakral yang berkaitan erat dengan upacara adat keraton, khususnya upacara jumenengan, yaitu peringatan kenaikan tahta raja.

Menurut Sulistyo Haryati (2010), Bedhaya Ketawang adalah suatu bentuk garapan tari tradisional (klasik) Jawa yang dibawakan oleh sembilan penari puteri, yang berfungsi untuk persembahan di hadapan raja pada setiap jumenengan (peringatan kenaikan tahta raja).

Makna Sembilan Penari Bedhaya Ketawang:

Makna simbolis Tari Bedhaya Ketawang, dapat dilihat dari jumlah penarinya yang menunjuk pada angka sembilan. (Jagating manungsa, Jw.)

  1. Batak, sebagai kepala merupakan perwujudan dari jiwa.
  2. Endhel-Ajeg, merupakan perwujudan nafsu atau keinginan hati.
  3. Gulu, mewujudkan bagian leher.
  4. Dhada, mewujudkan bagian dada.
  5. Apit-mBuri, mewujudkan bagian lengan kanan.
  6. Apit-Ngarep, mewujudkan lengan kiri
  7. Endhel-Weton, merupakan perwujudan bagian tungkai kanan.
  8. Apit-Meneng, mewujudkan bagian tungkai kiri.
  9. Buncit, mewujudkan bagian organ seks (Soedarsono, 1984: 79)

Bedhaya Ketawang dan Kepercayaan terhadap Ratu Kidul 

Bedhaya Ketawang melambangkan perlindungan Gusti Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan, kepada Kerajaan Mataram. Konon, pada setiap Bedhaya Ketawang ditarikan, Ratu Kidul akan hadir dan ikut menari di hadapan raja. Legenda yang hidup dalam masyarakat Jawa mempercayai bahwa hanya raja dan orang-orang tertentu yang dapat melihat kehadiran sosok Ratu Kidul di antara pada penari Bedhaya Ketawang.

Referensi :
Haryanti, S. (2016). Tari Bedhaya Ketawang: Refleksi Mitos Kanjeng Ratu Kidul dalam Dimensi Kekuasaan Raja Kasunanan Surakarta. Greget: Jurnal Kreativitas Dan Studi Tari, 9(1). https://doi.org/10.33153/grt.v9i1.405
https://www.ullensentalu.com/kajian/bedhaya-ketawang-induk-semua-tari-jawa
https://www.idntimes.com/life/education/fakta-tari-bedhaya-ketawang-c1c2-01-hbt1c-2qnght
https://engrasia.com/blogs/berita/keindahan-tari-bedhaya-ketawang?srsltid=AU7gw4X_cpY-WhssPXdcL_IwgYL4dyMDEFibHUdWVtzPk42RHYH9qlT3